BUKU CURHAT

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
news

Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium

E-mail Print PDF

It's more than just a Comic, It's a Graphic Travelogue!

DUO HIPPO DINAMIS TERSESAT DI BYZANTIUM

 COVER DHD

 

SINOPSIS

Trinity memang tak ada matinya! Petualangan serunya keliling dunia dalam The Naked Traveler 1
dan The Naked Traveler 2 membuat orang tak pernah puas membacanya jika hanya sekali.
Orang tetap kagum dan tertawa ngakak membaca pengalaman serunya.

Kali ini, Trinity bersama Nina pamer pengalaman seru mereka. Mereka menjelajah Turki!
Duet anti-hero, yang dinamai Duo Hippo Dinamis. Duet ini adalah KK (nina) dan DD(Trinity).
Dua-duanya perempuan gembul yang doyan berenang dan jalan-jalan.
 
Di gambar oleh Lala (Sheila Rooswitha) dengan sangat telaten, dalam episode
Tersesat di Byzantium ini, KK dan DD melakukan perjalanan impulsif ke Turki,
yang – meskipun tetap berisi pengalaman wisatawan pada umumnya – penuh dengan
berbagai insiden tak terduga, yang membutuhkan nyali petualang, semangat, nekad,
dan humor yang tinggi untuk melaluinya.
 
Menikmati bangunan bersejarah yang terawat baik, mencoba mandi a la Turki dan
bermalam di kereta berkabin hanyalah segelintir peristiwa seru dari graphic travelogue ini.

Yah, ini adalah grahic travelogue, buku catatan perjalanan ke Turki yang diwujudkan
dalam bentuk gambar, bukan sekadar tulisan. Mau tau serunya perjalanan Duo Hippo Dinamis?
Baca buku ini!



PREVIEW PAGE :
 
 DHD PREVIEW A
 
 
DHD PREVIEW B
 
DHD PREVIEW C
 
 DHD PREVIEW D
 
 
Happy Hippos Traveling!

 

Last Updated on Wednesday, 28 July 2010 09:04
 

Membaca Masyarakat lewat “Diary Bergambar”

E-mail Print PDF

Oleh
Mila Novita

Jakarta - Kehidupan selebritas, seperti Luna Maya, mungkin lebih menarik minat masyarakat ketimbang Dwinita Larasati atau Tita yang seorang doktor di bidang desain industrial di Institut Teknologi Bandung serta Sheila Rooswitha alias Lala yang seorang ilustrator dan storyboard artis freelance.

Namun, dengan gaya bercerita unik menggunakan gambar-gambar lucu ala komik, catatan harian dua perempuan ini jadi menarik. Itu yang membuat Rony Amdani dari Curhat Anak Bangsa, Bandung, berminat menerbitkannya. Tita sudah menerbitkan tiga catatan harian grafis (graphic diary), sementara Lala baru meluncurkan buku pertamanya, Cerita Si Lala, pada Selasa (21/4) di Teater Salihara, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari pembukaan V Film Festival, festival film perempuan, yang berlangsung 21-26 April ini.
Di Indonesia, catatan harian seperti milik Tita dan Lala ini belum terlalu umum. Berbeda dengan di luar negeri, di Belanda, misalnya, yang sudah muncul sejak beberapa dekade silam. Rony yang juga seorang pecinta komik mengatakan, catatan harian grafis seperti ini selalu merespons keadaan sosial. Tita, misalnya, membuat kritik sosial terhadap gempa bumi yang menimpa Yogyakarta pada 2006 silam ketika ia berada di Belanda.
“Orang-orang seperti Tita dan Sheila didukung oleh pendidikan yang tinggi sehingga ada kritik sosial terhadap lingkungannya. Kalau Tita, ia membuat perpaduan budaya antara Indonesia dan Belanda. Ia membandingkan yang ia alami ketika berada di Belanda dengan ketika berada di Indonesia,” kata Rony yang telah menerbitkan lima buku.
Meskipun sama-sama catatan harian, Tita dan Lala memiliki gaya yang berbeda. Jika Tita menceritakannya per segmen berdasarkan kejadian menarik yang ia lihat saja, seperti komik Panji Koming, Lala membuatnya dengan struktur cerita komik biasa, dari ia lajang, menikah, sampai memiliki anak.
Gambar-gambar ekspresif seperti yang dibuat Lala dan Tita ini memang berbeda dengan komik-komik era lampau, seperti Mahabharata dan Ramayana versi Kosasih, Put On, atau Semar-Gareng-Petruk.

Proses Kreatif
Lala mengalami proses kreatif seperti menulis buku harian biasa meskipun ia menggambarkannya beberapa tahun setelahnya. Hal sangat ekspresif ia gambarkan ketika ia gagal ke Jerman karena visanya ditolak. “Saya mengalami kejadian itu, baru saya gambar. Seperti ketika ditolak ke Jerman, saya cuma menggambarkan kekesalan saya, mati gaya. Terkesan sangat personal,” katanya.
Tita juga mengalami hal sama. Ketika cerita personalnya ia publikasikan, ada dilema yang muncul. “Tadinya saya juga nggak pede (percaya diri-red). Siapa sih yang mau tahu tentang saya? Komik saya ini berbeda dengan komik Satrapi (Marjene Satrapi, animator berdarah Iran yang kini menjadi warga negara Prancis-red) yang pernah mengalami masalah dengan pemerintahnya. Tapi ternyata, orang masih mencari-cari yang simpel-simpel seperti ini,” kata Tita.
Buktinya, dalam enam bulan, komik Tita yang diterbitkan sebanyak 3000 eksemplar itu laris manis di pasaran. Komik Lala yang baru dijual secara online pada hari peluncuran lalu sudah dipesan sebanyak 100 buku, melebihi penjualan online hari pertama komik Tita. n

 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0904/22/hib01.html

Sinar Harapan
Rabu 22 April 2009

 

New Release : Graphic Diary Berbagi Hidup

E-mail Print PDF

preview komik tita       preview

 

preview       preview

 

 preview

 

 

Graphic diary "Berbagi Hidup"

cover berbagi hidup

 

Adalah hal yang menyenangkan bila anak-anak dapat bebas bermain, tertawa, bercanda, bercerita.  Dan adalah hal yang sangat mengharukan dan mengagumkan, bila anak-anak ceria tersebut sebenarnya membawa beban berat dalam diri mereka, seperti yang dialami mereka yang tergabung dalam Komunitas Anak Berbagi Hidup (KABH). Anak-anak ini terlahir dengan mengidap HIV, namun semangat hidup mereka sangat besar. Mereka dapat tampil dengan tegar dan tabah di hadapan publik, bukan untuk meminta belas kasihan, tapi agar mendapat perlakuan wajar dari masyarakat.

Mereka ingin mengungkapkan perasaan bahwa mereka adalah juga anak-anak biasa yang perlu perhatian dan kasih sayang, tanpa diskriminasi. Melalui Berbagi Hidup ini, kisah-kisah, kesenangan dan cita-cita mereka tertuturkan dalam gambar, di mana hal-hal yang tampaknya sederhana dalam hidup mereka menjadi sangat bernilai dan patut disyukuri.

KABH dan Penerbit Curhat Anak Bangsa mempersembahkan buku ini bagi siapa pun yang hendak bersama-sama menikmati setiap saat dalam kehidupan, dan membaginya pada sesama.

"Berbagi Hidup" merupakan hasil kolaborasi antara Komunitas Anak Berbagi Hidup dan Penerbit Curhat Anak Bangsa, berisi kisah-kisah nyata anak-anak ODHA yang dibuat dalam bentuk cergam berwarna.

 

 

FAQ graphic diary “Berbagi Hidup”

 

Bagaimana asal-mula pembuatan graphic diary “Berbagi Hidup” ini?

Sekitar tahun 2008, Penerbit CAB menyaksikan sekelompok anak-anak pengidap HIV/AIDS (berusia antara sekitar 3 bulan hingga 13 tahun) tampil membawakan lagu dan puisi, mengungkapkan perasaan dan permintaan mereka untuk diperlakukan sewajarnya, tanpa pengucilan yang mendiskriminasi, namun juga tanpa belas kasih yang berlebihan. Peristiwa penampilan anak-anak yang tergabung dalam Komunitas Anak Berbagi Hidup (KABH) ini terus membekas di benak, sehingga CAB merasa tergerak untuk berbuat sesuatu. Dengan merujuk dari aktivitas sebuah yayasan di Belanda, Teken Mijn Verhaal (“Gambarlah Kisahku”), di mana kolaborasi antara para penggambar (sebagian besar adalah cergamis terkenal di Belanda) dan anak-anak penyandang cacat tubuh telah menghasilkan beberapa edisi cergam yang hasilnya didonasikan untuk yayasan, CAB mencoba berbuat hal serupa.

Baru sekitar satu tahun setelah pertunjukan anak-anak tersebut, dan setelah melalui beberapa kali berkorespondensi melalui email, CAB akhirnya bertemu langsung dengan pengurus KABH dan mematangkan rencana pembuatan komik “Berbagi Hidup”.

 

Bagaimana proses penggarapan graphic diary “Berbagi Hidup”?

CAB mengumpulkan beberapa rekan cergamis dan menawarkan pada mereka untuk menggambarkan kisah anak-anak ODHA. Ternyata mereka menyambut baik ajakan ini dan semua menyanggupi untuk menyelesaikan 4 (empat) halaman cerita berwarna berdasarkan kisah yang dituturkan oleh masing-masing anak ODHA, atau yang diceritakan oleh orang tua mereka.

Pihak KABH memberitahukan anak-anak ODHA/orang tua mereka mengenai kolaborasi ini, yang menyambut baik rencana ini dan bersedia bekerja sama. Masing-masing anak (atau diwakili orang tua/pengasuhnya) menyampaikan kisah masing-masing, yang kemudian disusun dalam bentuk synopsis oleh KABH dan disampaikan pada CAB.

Sinopsis tersebut berisi: data pribadi anak (warna rambut, jenis rambut, warna kulit, warna mata, umur, hobi, makanan favorit, cita-cita, dsb.), termasuk domisili dan nama yang sifatnya confidential (tidak untuk disebarkan pada publik), dan cerita peristiwa atau kejadian yang berkesan yang pernah mereka alami. Pada batas waktu yang telah ditentukan, terkumpul sekitar 29 cerita dari anak-anak ODHA yang tersebar di Pulau Jawa hingga Sumatera.   

CAB kemudian menyebarkan synopsis tersebut pada rekan-rekan cergamis yang telah menyatakan niatnya untuk berkontribusi, agar masing-masing dapat memilih anak/kisah mana yang akan mereka gambar. Pada akhirnya, terkumpul lima cerita dari lima cergamis yang menggambarkan kisah lima anak ODHA.

Cerita yang terkumpul dibuat dalam bentuk dummy /draft buku sebelum dicetak secara massal/ diterbitkan untuk memperoleh respon langsung dari anak-anak ODHA/keluarga mereka, melalui KABH. Setelah direvisi sesuai masukan, buku dicetak dan diluncurkan.

 

Bagaimana tanggapan rekan-rekan cergamis ketika ditawarkan untuk terlibat dalam pembuatan graphic diary ini? Apakah dilihat sebagai ‘proyek’, atau kah ada empati juga?

Sejak awal, CAB dan para cergamis yang dikontak oleh CAB mengetahui bahwa tidak akan memperoleh kompensasi/ imbalan material dalam pembuatan graphic diary ini, sehingga jelas bahwa motivasi utama kami dalam menggarap ini adalah empati.

Dalam menggarap graphic diary ini, CAB bekerja sama hanya dengan pihak KABH, tanpa dukungan atau bantuan dari lembaga-lembaga lain. 

 

Kenapa “Berbagi Hidup” ini termasuk graphic diary?

Sesuai dengan buku-buku terbitan CAB yang lain, inti dari cerita-cerita dalam “Berbagi Hidup” ini pun merupakan semacam ‘diary’ atau catatan harian, di mana terungkap peristiwa yang dialami sehari-hari, termasuk perasaan, emosi, keinginan, hingga pemikiran dan cita-cita.

Dalam “Berbagi Hidup” ini, ‘diary’ anak-anak ODHA inilah yang ditampilkan, dengan bantuan para cergamis untuk menyajikannya dalam bentuk komik yang memang menceritakan keseharian dan keinginan2 mereka, yang tak jauh beda dari keseharian dan keinginan2 anak-anak biasa.

 

Kalau “Berbagi Hidup” ini memang buku untuk dan mengenai anak-anak ODHA, kenapa tidak tersebut kata-kata HIV/AIDS sedikit pun, maupun simbol-simbol peduli AIDS dalam buku ini?

Ada dua alasan utama berkenaan dengan hal ini. Salah satunya adalah tidak adanya interaksi langsung antara para cergamis dengan anak-anak ODHA tersebut, sehingga para cergamis merasa lebih nyaman untuk tidak menspesifikasi detail tersebut dalam gambar. Para cergamis ini juga tidak mengetahui, apakah anak-anak ini paham akan kondisi mereka yang memerlukan penanganan khusus, atau paham mengenai kritisnya kondisi fisik mereka, sehingga lebih nyaman untuk menggambarkannya sebagai penyakit pada umumnya yang memerlukan perawatan, apa pun jenisnya. Hal utama di sini adalah curahan emosi dan semangat anak-anak ini, bukan jenis penyakitnya.

Hal inilah yang membawa ke alasan berikut, yaitu bentuk graphic diary itu sendiri. Sinopsis yang disampaikan oleh anak-anak ODHA/keluarganya sebagian besar bernada positif dan optimis, dan ini lah yang hendak ditampilkan oleh para cergamis yang berkontribusi bagi “Berbagi Hidup”.

 

Kenapa ceritanya sepertinya gembira semua, padahal isu HIV/AIDS itu memprihatinkan?

Karena tujuan pembuatan graphic diary ini adalah untuk berbagi semangat hidup dan keceriaan. Graphic diary ini juga ingin menunjukkan bahwa anak-anak ini dapat menjalani hidup dengan gembira, meskipun kondisi fisik mereka kritis.

 

Setelah selesai dibuat, bagaimana tanggapan anak-anak ODHA/keluarganya terhadap graphic diary “Berbagi Hidup” ini?

Ketika melihat hasilnya sewaktu masih dalam tahap draft/ dummy buku, tanggapan mereka sangat positif. Ketika buku selesai dicetak, kesaksian dari salah seorang kakek yang cucunya tergambarkan dalam graphic diary tersebut adalah, si cucu mengenali dirinya dan orang tuanya dalam gambar tersebut, ia sangat senang dan berulang2 melihat gambar tersebut, bahkan membawa serta buku ini tidur bersamanya. Hal seperti inilah yang merupakan penghargaan terbesar bagi kami, para cergamis graphic diary ini.

 

Apa harapan CAB dari diterbitkannya graphic diary “Berbagi Hidup” ini?

CAB mencoba memberikan salah satu cara bagi anak-anak ODHA untuk dapat mandiri dalam memperoleh dana demi perawatan pendidikan dan pengobatan mereka sendiri, melalui cerita/ sebagian kisah hidup yang berasal dari diri mereka sendiri, yang dapat dibagikan pada siapa pun yang berkenan menikmatinya dalam bentuk cerita-gambar.

 

Jadi hasil penjualan graphic diary ini tersalurkan langsung ke mereka?

Seluruhnya langsung masuk ke rekening Komunitas Anak Berbagi Hidup.

 

Bagaimana spesifikasi teknis graphic diary “Berbagi Hidup”?

Ukuran: B5  (35 x 15 cm)

Jumlah halaman: 24 halaman + cover

Kertas isi: art paper

Print: full color

Cover artist: Mia Diwasasri

Desain cover: Dudi Suwardi

Artists:

Tita Larasati

Sheila Rooswitha

Tri Prasetyningtyas

Malia Hartati & Rony Amdani

Adiputra

Penerbit: Curhat Anak Bangsa

 

Bagaimana cara memperoleh graphic diary “Berbagi Hidup”?

Buku ini dapat dipesan (untuk dikirimkan ke alamat pemesan) melalui alamat email This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , atau dapat dibeli langsung di kantor KABH (Jakarta). Detail prosedurnya dapat dilihat di http://bukucurhat.net

 

Berapa harga graphic diary “Berbagi Hidup”?

Buku ini tidak dijual secara komersil, tapi donasi. Harga minimal setiap donasi adalah Rp25,000 per buku (belum termasuk ongkos kirim bila buku harus dikirimkan ke alamat pemesan).

 
Cara memesan
1. Emailkan alamat pengiriman dan jumlah buku yang dipesan ke This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
2. Tunggu konfirmasi penerimaan pemesanan dan jumlah biaya pengiriman
3. Transfer ke: BCA 578 0483 158 a.n Frenki Tampubolon
4. Setelah itu, bukti transfer harap dikirimkan ke email This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ATAU di-fax ke 022 7319981
5. Buku-buku pesanan akan dikirimkan setelah bukti transfer diterima

ATAU
Dapat diperoleh langsung di Komunitas Anak Berbagi Hidup
Jl Cempaka Putih Barat XXI No 34 Jakarta Pusat Tlp. 021. 42802349-50
PiC: Frangky Tampubolon

Last Updated on Monday, 25 January 2010 11:06
 

Getting graphic with Indonesian comic books

E-mail Print PDF
Curhat Tita

More like a graphic diary than a graphic novel, 'Curhat Tita' (Tita's Story') tells the story of Tita's daily life and all the bizarre things she comes across. Her light and simple sketches, which she draws using a black gel pen, started off as her way of sending news back home to Indonesia while studying abroad. By eschewing the panels found in more traditional comics, her drawings feel more intimate and personal when relating minor details from her everyday life, such as her disagreement with her Caucasian husband on how to wash the dishes. Written in English, Tita transferred exactly what she saw and observed in real life into her drawings, producing a funny, honest and sincere work of art.

Time Out Jakarta, September 2009

Last Updated on Thursday, 29 October 2009 04:49
 

Komik Keroyokan dan Korupsi

E-mail Print PDF
Cerita Sampul

Belakangan ini komik-komik Indonesia yang terbit mengangkat tema yang beragam dan bentuk yang macam-macam, tak lagi terikat pada model manga dan genre silat dan superhero yang dulu sempat merajai dunia perkomikan. Tema itu bisa soal pemberantasan korupsi hingga kisah keseharian sang komikus. Bentuknya bisa gado-gado karena digarap keroyokan oleh beberapa komikus berbeda gaya atau garis-garis yang bersih. Berikut ini beberapa komik yang muncul tersebut.
Judul: Antologi 7

Pengarang: Alfie Zachkyelle, Tita Larasati, Caravan Studio, Sheila Rooswitha, Motulz, Rhoald Marcellius, Beng Rahadian, Aziza Noor, Adiputra

Penerbit: Curhat Anak Bangsa, Juli 2009

Scott McCloud, tokoh teori komik dan pengarang Understanding Comics, menciptakan tantangan komik 24 jam pada 1990. Dia menantang komikus untuk membuat komik utuh sepanjang 24 halaman selama 24 jam. Gagasan ini diadopsi oleh penerbit Curhat Anak Bangsa (CAB) dengan sebuah proyek yang lebih sederhana: membuat satu halaman cerita bergambar dalam satu hari selama tujuh hari berturut-turut. CAB lantas melempar tantangan itu kepada enam komikus dan satu studio komik dan hasilnya adalah Antologi 7.

Sebagai karya keroyokan, pembaca akan menemukan berbagai tema, cara berutur dan gambar pada buku ini. Alfie Zachkyelle, misalnya, sibuk mengisahkan perjuangan mencari cinta sejati setelah menjadi duda dari seorang cewek Jerman sambil menuturkan soal penyelamatan nasib anjing-anjing peliharaannya yang ditolak di sana-sini. Tita Larasati, yang goresan penanya sudah dikenal lewat komik Curhat Tita yang terbit tahun lalu, kini kembali menncoret-coret panel gambarnya tentang kisah perjalannya yang tersandung-sandung ke Bangkok. Adapun Sheila Rooswitha menurutkan kesialan-kesialan yang menimpanya gara-gara datang terlambat ke kantor.

Meski beragam tema dan gaya, satu hal yang menyatukan ketujuh cerita di buku ini adalah sama-sama mengangkat kisah nyata sang komikus, bukan fiksi. Dalam bahasa Tita, salah satu pendiri CAB, komik begini adalah "graphic diary", catatan harian grafis.
 
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 5